WELCOME to my big worLd

Get Gifs at CodemySpace.com

20140209

Just wanna share.

Hi, this is my first writing in this month. This time I wont tell you about what happened recently, but I wanna share about what will happen in the future? You know, now I'm 25 years old. I've never imagined about my self in 25 when I was 5, 10, or 17 years old. Life just flew like a waterflow. No planning, no ambition, just dream. The dream which I didn't know how to reach. The dream which become an ambition but in the other side, I'm almost late to realize. I wanna reach it before I stuck and cant do anything more. I wanna reach it before my age is getting older and older. I wanna reach it before another life comes to make other dreams.

But still I dont know how to reach it. Somehow, I think it's too good to be true. ~My Dream~

20140117

Happy Birthday Dian!

25 years  ago, exactly on January 17th 1989, a beautiful cute awesome smart diligent girl - who is called Dian Annisa or sometimes her high school and college friends called her Diaz - was born to the world. Ok, this time I won't tell you how awesome Dian is. It's just prologue before I start to the real story about today anyway. Now, the time from my netbook shows 2:29 AM. I was sleeping at 9:30 PM yesterday and suddenly woke up at 11:58 PM. Do you know what happened 2 minutes later? At 00:00 sharp my bebo called me and said that he was in front of my boarding house at that time. Well, still with my swelled face, I went to outside then saw him with a big monkey doll. Oh my God, I'm not that girly or feminine, but I love animal doll, I think it's so cute. And I was so happy he gave me that for my 25th birthday. Kamsahamnidaa bebooo.. He named the doll Bajuri and told me to take care of that. Uhhh... to twiiittt..

This is Bajuri :

It's cute, right?

20140116

EGG

Several days ago, i've got itching in the whole my body. I worried that I got allergy, because I thought I was eating eggs execessively. But I think I'm not. I got itching just because of extremely climate change. But eventhough I have no egg alergy,  I should avoid it or at least cut down amount of eggs that I eat. You know, I can eat 5 eggs almost everyday. And maybe because of that my acnes are getting worse. The foods won't be perfect without egg. Lets say gado-gado, soto, indomie, even delicious cake must be using eggs for its main ingredient. It's easy to be used. Moreover for settled foreigner like me. So why did God invent egg if it is unhealthy? Ask why? Why Ask?

20140115

How do you say "Prajabatan" in english?

I don't really care how to say prajabatan in english cos I think there's no prajabatan in UK or US. So let me say it just prajabatan. Prajabatan is the requirement to be a civil servant. Do you know servant? I think it's not much different with slave. Someone pay you to do something. Someone that I mean is citizenry, people, public, err.. what else? Many people are really proud to be a civil servant. Even if they can get in just because of nepotism. Well, but I didn't. If you read my stories several days ago, you will know I can get in because of invisible hand. I admitted, at the first time I was really proud to be a civil servant. How can I wasn't? I'm the only one graduated university who passed recruitment from east Indonesia. But you know, it's just for a while. You have to face the truth. Many people really want to be a civil servant, on the other hand many people hate it too. People pay you to do something - to set this country to be better. It's not an easy work. It look easier if I said you have to set this company than you have to set this country. Moreover your salary may be bigger if you work in company than in government. Since you are accepted to be a civil servant, then you have to accept all the consequences. Include hard work and underpay. So why do you still want to be a civil servant? People hate you because you don't commit your consequences. You laze in work, then when you think your salary isn't enough, you'll corrupt.

I don't say it because I hate being a civil servant. It's just a warning for my self or maybe for you to work with sincere and integrity wherever you work and whatever your job.

Btw, sorry if my entry is oot or out of title. :D Maybe someday I will post about my experience when I was prajabatan. See you in other stories!

20140113

Colors of The Beautiful Life

Aini Mutiah Sabrina
Colors of The Beautiful Life
Aku masih ingat awal perjumpaan kita. Awal perjumpaanku denganmu. Walaupun hari indah itu telah lama berlalu, tapi keadaan pada waktu itu masih terasa segar dalam ingatanku. Tidak hanya pemandangan indah di hari bersalju itu, tapi juga dirimu yang tersenyum manis kepadaku dan berkata, “Warna suaramu, sangat indah.”
Aku yang saat itu selalu memimpikan untuk menjadi seorang penyanyi terkenal, sangat terkesima melihat seorang gadis manis yang tersenyum begitu indahnya. Saat itu, aku berpikir bahwa kaulah gadis tercantik dan juga makhluk terindah yang pernah kulihat, bahkan hingga saat ini, tiada yang dapat menggantikan lukisan dirimu dalam hatiku. Kaulah yang tercantik, Ella.
■ ■ ■
“Ella, dia adalah anak sahabat ayah. Dia akan tinggal di sini selama kurang lebih tiga tahun dalam rangka pendidikan. Dia dititipkan di sini, karena ayahnya harus pergi ke Indonesia selama tiga tahun. Berteman baiklah dengannya.” Kata pria yang masih saja terlihat tampan dengan rambut blondenya itu, walaupun umurnya tergolong tidak muda lagi.
Gadis itu tersenyum menatapku. Mata coklatnya sangat serasi dengan rambutnya yang berwarna coklat muda, memperlihatkan keanggunan seorang gadis cilik berwajah indo yang sangat ramah. Aku hampir saja tidak bisa berkata apa-apa.
“Senang bertemu denganmu, Ella. Namaku Linda.” Kataku akhirnya, membalas senyumannya.
“Kita sudah pernah bertemu sebelumnya ‘kan, Linda?” katanya masih dengan senyuman manisnya.
Aku menatapnya dan membalas senyumnya, “Iya. Kita bertemu seminggu yang lalu di danau yang berada dekat sini. Hari itu, hari terdingin di musim dingin. Kau masih mengingatnya?”
“Tentu saja. Aku tidak akan pernah melupakan warna suaramu yang sangat indah itu.” Ujarnya. Dia terdengar sangat tulus dengan ucapannya itu.
“Baguslah jika kalian sudah saling mengenal sebelumya. Linda ini sebenarnya tinggal tidak jauh dari sini Ella, dia tetangga kita. Tapi, karena ayahnya harus pulang ke Indonesia karena pekerjaan dan Linda tidak bisa ikut karena ayahnya akan tinggal di asrama di sana jadi dia dititipkan di sini.” Kata ayah Ella menjelaskan.
Ella hanya tersenyum. Dia meraih tanganku dan mengajakku bersamanya, “Akan kuperlihatkan keseluruhan rumah ini, Linda.”
Aku yang saat itu tidak pernah memiliki teman karena selalu di ejek di sekolah karena tidak dapat bergaul dengan baik hanya mengikuti Ella. Aku sangat berterima kasih karena Ella tidak bertanya apa-apa tentang ibuku, karena aku tidak begitu suka membicarkan tentang ibuku yang bahkan tidak pernah kutemui itu. Ibu dan ayahku adalah orang Indonesia. Mereka bercerai saat aku berumur 3 tahun. Aku tidak begitu ingat dengan wajah ibuku, bahkan aku tidak pernah ingat aku memiliki seorang ibu. Karena setelah bercerai ayahku langsung pindah ke tempat ini, ke London tepatnya daerah pinggiran London, demi pekerjaannya. Bahkan aku mengetahui perihal ibuku hanya dari cerita ayah. Itu pun aku tidak mengetahui semuanya karena ayah tidak begitu suka untuk membicarakan mengenai ibuku.
Sedangkan Ella, sebelum aku tinggal di sini aku banyak mendengar rumor tentangnya. Ayahnya adalah orang Inggris dan ibunya orang Indonesia. Walaupun begitu, Ella nampaknya lebih banyak mewarisi gen dari ayahnya. Orang tua Ella sebenarnya sudah bercerai, tapi masih tinggal bersama di rumah yang begitu besar layaknya istana ini. Hal ini dikarenakan, orang tua Ella tidak ingin menyakiti hati anak semata wayangnya itu.
Masyarakat sekitar menganggap tindakan orang tua Ella berlebihan. Hanya karena tidak ingin menyakiti hati anak semata wayangnya yang sagat mereka manjakan, mereka membohongi anaknya dengan terus memberikan kebahagiaan semu pada anaknya. Rumor yang beredar di masyarakat juga mengatakan bahwa Ella adalah gadis arogan yang tidak memiliki banyak teman, bahkan tidak memiliki teman sama sekali. Sifatnya yang arogan membuatnya tidak disukai oleh orang disekitarnya.
Tapi, aku tidak peduli dengan semua itu, sejak pertama kali bertemu dengan Ella, aku sudah sangat menyukai gadis yang lebih muda 2 tahun dariku itu. Dia sangat baik dan ramah, tidak seperti yang orang-orang katakan, terlebih lagi senyumnya yang indah itu entah mengapa membuat hatiku merasa nyaman.
Dan saat aku mulai tinggal di rumah itu, ternyata semua anggapan mengenai Ella adalah salah. Dia sama sekali tidak arogan, bahkan sangat ramah kepadaku. Dia juga sangat baik kepada semua pelayan-pelayan di rumah itu, dan semua pelayan di rumah itu sangat menyayangi Ella. Dari pelayan-pelayan itu, aku mengetahui bahwa fisik Ella sangat lemah. Dia sangat mudah jatuh sakit dan kelelahan. Ella juga jarang ke luar rumah dan bercengkerama dengan teman-teman sekolahnya dan hal itu membuat orang-orang mengira bahwa Ella bersikap arogan. Dari situlah aku menyadari, bahwa Ella yang dimanjakan oleh orang tuanya dan dijauhi teman-temannya adalah karena kondisi fisiknya. Dan dari keadaan itulah aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku tidak akan menjadi seperti teman-temannya yang lain yang menjauhinya bahkan aku memutuskan bahwa aku akan menjadi teman terbaiknya dan menjaganya selalu.
Aku mendapatkan sebuah kamar yang cukup besar untukku. Bahkan bisa dikatakan terlalu besar untuk tidur sendirian. Aku heran mengapa ayah Ella sangat kaya. Aku tidak tahu apa pekerjaan ayah Ella, yang aku heran mengapa ayah Ella bisa berteman dengan ayahku yang biasa-biasa saja. Bahkan hingga hari ini, hal itu masih merupakan sebuah misteri.
Kamar itu sangat luas. Dengan sebuah tempat tidur besar dan penghangat ruangan yang nyaman, kamar itu sudah cukup nyaman. Di tambah dengan lemari kuno yang berada di sudut ruangan dekat kamar mandi, beserta sebuah meja makan kecil di dekat jendela yang diletakkan di atas karpet yang ketika menginjak karpet itu kaki akan terasa sangat nyaman, kamar itu benar-benar sangat sempurna bagiku. Kamar mandinya pun sangat luas dengan sebuah bath tub dan Jacuzzi yang membuatku merasa seperti putri. Aku tidak akan pernah melupakan kamar itu.
Yang membuatku paling senang adalah kamarku yang berdekatan dengan kamar Ella yang sering bermain biola di kamarnya. Aku bisa mendengarnya bermain dari kamarku, benar-benar lagu yang sangat indah. Ella sangat pandai memainkan biola itu. Setiap kali dia memainkan biolanya seperti ada perasaan damai dan tentram di hatiku, walaupun begitu terkadang lantunan biola itu terdengar begitu sedih bagaikan menyimpan perasaan luka yang mendalam.
■ ■ ■
Di suatu malam bersalju, aku sekali lagi mendengar lantunan biola dari kamar Ella. Tanpa sadar lantunan itu membuatku ingin menangis. Sebuah lagu yang sangat indah, yang entah mengapa mendengarnya membuatku seperti mengetahui perasaan Ella saat itu. Aku memutuskan untuk melihat Ella bermain di kamarnya.
Aku membuka pintu kamarnya. Aku terpaku di depan pintu itu, melihat sebuah pemandangan di mana Ella sedang bermain biola di sebelah jendela yang tiranya berterbangan karena angin dan sesekali menyapu wajah Ella. Tanpa terganggu akan hal itu, Ella terus bermain biola. Matanya menatap menerawang ke arah senar biola itu. Sesekali dia tersenyum lembut dan sesekali keningnya mengernyit seperti benar-benar menghayati lagu yang dimainkannya.
Dia melihatku kemudian berhenti bermain. Dia tersenyum, “Jangan hanya berdiri di situ, kemarilah Linda!”
Aku masuk dan duduk di sebuah kursi di depan meja rias, “Permainan biolamu sangat bagus Ella, benar-benar indah.”
Dia tersenyum lalu menutup jendela kamarnya yang tadi terbuka, “Warna suara biola memang indah, tapi menurutku warna suaramu lebih indah.”
Tanpa sadar pipiku memerah. Aku malu sekaligus senang di puji seperti itu, “Kamu terlalu berlebihan Ella.”
Kembali dia tersenyum, “Kamu mungkin berpikir ini aneh, tapi aku benar-benar bisa melihat warna suaramu. Tidak hanya mendengar suaramu yang indah, tapi juga bisa melihat warna suaramu yang juga sama indahnya.”
Aku terdiam. Aku tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Mana mungkin anak berumur 9 tahun sepertiku pernah mendengar hal itu sebelumnya. Ketidaktahuanku ini membuatku sedikit tidak percaya dengan Ella. Tapi, dia temanku yang pertama dan satu-satunya dan aku tidak ingin membuatnya kecewa, aku hanya tersenyum.
Melihatku tersenyum, Ella kembali berbicara, “Ini turunan. Kata ayahku, pamanku Robert juga memiliki kelainan yang sama. Aku tidak tahu apakah ini sebuah penyakit ataukah sebuah kelebihan, atau mungkin sebuah kelainan, aku bahkan tidak tahu apa nama kelainan ini, tapi bagiku aku sangat bersyukur bisa memiliki kelebihan ini, karena semua warna-warna suara itu sangat indah. Dan yang membuatku lebih bersyukur lagi, karena aku bisa melihat warna suaramu yang sangat indah itu.”
Sekali lagi, aku hanya tersenyum.
“Maukah kamu bernyanyi bersamaku Linda? Aku akan mengiringimu dengan biolaku,” ujar Ella melihat senyumku.
Aku mengangguk dan tersenyum, “Tentu saja. Lagu apa?”
“Bagaimana kalau lagu Amazing Grace? Kau mau?”
Aku mengangguk. Lalu dia mulai memainkan biolanya dan aku pun mulai bernyanyi, “Ama… Amazing grace…”
Kau tahu Ella, di malam bersalju itu, aku merasa sangat bahagia. Mendengarmu mengiringiku dengan biolamu membuat persaanku saat itu benar-benar melimpah, aku benar-benar sangat bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bisa bernyanyi selepas itu dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku benar-benar bernyanyi dengan tulus. Setiap kali aku mengingat malam bersalju itu aku selalu menyanyikan lagu itu, Amazing Grace, dan menitikkan air mataku. Akan tetapi, aku merasa lagu Amazing Grace yang kunyanyikan, tidak pernah seindah malam itu.
■ ■ ■
Tidak terasa, hampir dua tahun aku tinggal di rumah mewah itu bersama Ella. Kami selalu bersama. Makan bersama, bermain bersama, belajar bersama, nonton bersama, dan melakukan semua hal lainnya bersama. Bahkan, pergi sekolah pun bersama. Walaupun kelas kami berbeda karena dia lebih muda dua tahun dariku, setiap istirahat kami selalu bersama. Ella juga selalu menanyakan hal yang tidak dia mengerti mengenai pelajarannya kepadaku.
Selain itu, kami juga selalu latihan musik bersama. Aku menyanyi dan dia memainkan biolanya mengiringiku. Tidak jarang, kami pergi ke tempat pertemuan kami yang pertama di dekat sebuah danau yang tidak berada jauh dari tempat pemukiman kami hanya untuk bermain, bernyanyi, atau berpiknik bersama. Kadang kami pergi sendiri secara diam-diam, tapi terkadang kami ketahuan dan harus ditemani oleh dua orang pelayan khusus Ella yang bernama Ashley dan Sharon dan masih remaja. Hal itu juga membuatku dekat dengan kedua pelayan itu. Bahkan tak jarang, keduanya juga melayaniku walaupun tak ada Ella bersamaku.
Di suatu pagi yang cerah di musim panas, Sharon membangunkanku dari tidurku.
“Nona Linda, bangun! Lihatlah, ini sudah jam berapa? Anda bisa telat ke sekolah nantinya. Ayo bangun!!” katanya seraya membuka semua tirai jendela kamarku dan membuka jendela lebar-lebar.
Aku bisa merasakan sinar mentari dan udara panas yang masuk dari jendela kamarku. Sinar mentari yang masuk itu serasa menusuk mataku saat aku membukanya, refleks, aku menutupnya kembali dan mengubah posisi tidurku agar tidak terkena cahayanya.
“Ayolah Nona Linda, bangun! Ini sudah hampir jam 07.00. Kalau tidak segera mandi dan sarapan, anda bisa terlambat.” Kata Sharon lagi.
Tanpa membuka mataku aku berbicara padanya, “Ella sudah bangun?”
“Nona Ella hari ini sakit. Dia tidak pergi ke sekolah.” Jawabnya.
Mendengar hal itu, spontan aku terbangun, “Sakit? Sakit apa?”
“Bukankah aku sudah pernah bilang kalau Nona Ella itu memang sakit-sakitan. Sudahlah! Sekarang ayo bangun lalu mandi dan sarapan! Ini musim panas, apa kamu tidak gerah terus-terusan berada di balik selimut?” ujarnya.
Aku pun bangun. Bukan karena kepanasan. Aku tidak mungkin kepanasan, karena kamarku memiliki dua buah air conditioner, jadi tidak masalah. Masalahnya adalah aku tidak bisa tidur lagi setelah mendengar kabar kalau Ella sakit. Sebelum berangkat sekolah, aku ingin melihatnya di kamarnya. Tapi, alih-alih melihatnya di kamarnya, aku hanya bertemu dengan Ashley yang saat itu keluar dari kamar Ella.
“Kau tidak boleh masuk, Linda!” kata Ashley lembut, “Nona Ella sedang tidur.”
“Oh begitu…” ujarku sedikit kecewa, “Ya sudah… Aku pergi dulu ya, Ashley”
“Iya Nona Linda. Hati-hati di jalan.” Ujarnya sopan.
Ella sudah sakit selama beberapa hari. Hal itu membuatku merasa sedikit kesepian. Aku tidak pernah bisa menemuinya, karena setiap kali aku ingin menemuinya dia selalu sedang tidur. Aku sangat khawatir. Sebenarnya Ella sakit apa? Kata Ashley, aku tidak perlu khawatir. Katanya Ella hanya sakit demam biasa, hanya saja dia harus banyak istirahat.
Kau tahu Ella, saat itu aku benar-benar bingung. Sebenarnya kamu sakit apa? Apakah penyakit yang serius? Aku sungguh-sungguh khawatir saat itu. Khawatir jika aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi dan hanya bisa berdiri di luar pintu kamarmu dan mendoakanmu agar cepat sembuh.
Hari itu, hari ke-9 Ella sakit. Seperti biasa, sebelum pergi ke sekolah dan setelah pulang sekolah, aku ingin melihatnya di kamarnya. Akan tetapi, lagi-lagi Ashley mengatakan kalau Ella sedang tidur. Aku lagi-lagi kecewa. Aku hanya terus berdiri memandangi bulan dari balkonku, sambil terus melihat ke arah balkon kamar Ella, sepi. Padahal, biasanya aku akan mendengar suara gesekan biola dari kamar itu, tapi selama Ella sakit, sangat sepi.
Aku pun masuk kembali ke kamarku dan memutuskan untuk belajar sebelum aku mendengar suara teriakan orang-orang yang sedang marah. Aku sangat kaget. Suara itu terdengar sangat jelas. Sepertinya suara itu datang dari arah ruang kerja yang berada tak jauh dari kamarku dan kamar Ella.
“INI SEMUA SALAHMU!! SALAHMU!! SEANDAINYA AKU TIDAK PERNAH MENIKAH DENGANMU!! SEANDAINYA KAU TIDAK MEMILIKI GARIS KETURUNAN SEPERTI ITU!! SALAHMU!!”, teriak seorang wanita yang sepertinya merupakan teriakan dari ibu Ella.
“MANA AKU TAHU INI AKAN TERJADI! AKU TIDAK TAHU!!” teriak seorang pria, tapi sedikit lebih pelan. Suara pria itu nampaknya adalah suara ayah Ella.
“BUKANKAH ADIKMU JUGA MENGALAMI KELAINAN YANG SAMA? SEHARUSNYA KAMU TAHU ‘KAN?”, teriak ibu Ella lagi, “APA DIA JUGA SERING SAKIT-SAKITAN WAKTU KECIL? ELLA PASTI SANGAT MENDERITA… DIA PASTI SANGAT MEMBENCI KEADAANNYA YANG SEPERTI INI…INI SEMUA SALAHMU.”
Saat mengatakan itu, suara ibu Ella yang berteriak seperti sedang menahan tangisan.
“Tapi dokter bilang, memang biasa terjadi hal seperti ini ‘kan? Memang terkadang kasusnya bisa seperti Ella ‘kan?”, kata ayah Ella, tidak teriak lagi, tapi nada suaranya masih tinggi.
“Tapi… aku tak sanggup melihat keadaan Ella seperti ini terus. Aku ingin dia hidup normal seperti anak-anak lainnya. Kenapa dia tidak seperti adikmu saja, yang bisa hidup normal bahkan menjadi musisi sukses … Mengapa?” kata ibu Ella, tidak teriak lagi tapi masih dengan nada suara bergetar seperti menangis.
“Aku juga tidak tahu. Tapi dokter bilang memang begitu ‘kan? Ada beberapa kasus seperti ini jika anaknya perempuan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Kata ayah Ella, suaranya makin pelan. Nyaris tak terdengar.
“APA MAKSUDMU? AKU TIDAK BISA SEPERTIMU YANG TENANG-TENANG SAJA MELIHAT KONDISI ELLA SEPERTI INI… INI SEMUA SALAHMU!! SALAHMU!!” setelah teriakan ibu Ella itu, terdengar suara hentakan pintu yang keras. Aku yang mendengarnya sampai kaget.
Aku keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Saat aku melangkah keluar, ibu Ella melewatiku disusul oleh ayah Ella yang memanggil-manggilnya, “Olivia… Olivia…”. Lalu mereka berlalu pergi.
Aku sangat kaget. Benar-benar kaget. Suara teriakan itu dan suara hentakan pintu itu, sekilas membuatku takut. Aku jadi merasa tidak tenang. Aku memikirkan mengenai pembicaran mereka mengenai Ella. ELLA!!!
Tiba-tiba aku tersadar kalau ruang kerja itu lebih dekat ke kamar Ella dibanding kamarku. Pasti Ella juga mendengar percakapan itu. Aku melangkah ke arah kamar Ella yang berada di dekat kamarku. Awalnya aku ragu, tapi rasa khawatirku kepada Ella lebih besar daripada keraguanku. Jadi aku memutuskan untuk melihat keadaannya.
Aku mengetuk pintu kamarnya, tapi tak ada jawaban. Akhirnya, dengan perlahan, aku membuka pintu kamarnya.
Ella duduk bersandar di tempat tidurnya. Dia menyilangkan tangannya di atas lututnya dan membenamkan wajahnya ke tangannya. Aku berjalan mendekatinya sambil memanggilnya perlahan, “Ella…”
Dia menoleh ke arahku. Pipinya dibasahi oleh air matanya yang masih terus mengalir. Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. Dengan cepat aku berjalan ke arahnya dan naik ke tempat tidurnya untuk memeluknya.
Sambil memelukku dia terus menangis. Dia memelukku begitu erat dan menangis begitu kencang namun tanpa suara, hanya isakan pelan yang tertahan yang membuat hatiku terasa pilu mendengarnya. Tak terasa, air mataku pun mengalir.
“Linda, kenapa? Kenapa mereka bertengkar hanya karena aku?” kata Ella di sela-sela isakannya.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku juga tidak mengerti. Aku hanya membiarkan Ella terus menangis sementara aku juga menangis. Kami terus berpelukan sambil menangis.
Setelah puas menangis, kami terdiam.
“Terima kasih, Linda…” ujar Ella memecah keheningan.
Aku hanya tersenyum.
“Sebenarnya aku sudah tahu kalau orang tuaku bercerai… Aku tahu kalau mereka hanya pura-pura rukun… Aku sudah tahu sejak lama.” Katanya tanpa ekspresi.
Aku diam. Aku menatapnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Lebih tepatnya aku tidak mengerti harus mengatakan apa.
Kau tahu Ella, saat itu aku merasa kau lebih dewasa dibandingkan aku yang lebih tua dua tahun darimu. Mungkin itu karena masalah yang kau alami di usia yang masih sangat muda, yaitu 9 tahun. Saat itu, bahkan hingga kini, aku berpikir bahwa kau adalah anak yang sangat tegar.
“Tapi Linda…” lanjut Ella lagi, “Aku sangat berharap mereka benar-benar rukun dan tidak bercerai… Aku sangat mengharapkannya.”
Ella mengatakan hal itu sambil mengernyitkan alisnya. Sepertinya dia ingin menangis lagi, tapi menahannya. Saat melihat wajahnya, dengan jelas aku bisa melihat ada yang aneh. Saat itu aku belum terlalu mengerti apa keanehan yang kulihat. Tapi Ella, kini aku tahu bahwa yang keanehan di wajahmu yang kulihat saat itu adalah perasaan terluka.
Malam itu, aku dan Ella akhirnya tidur bersama. Sebelum tidur kami berbincang-bincang mengenai banyak hal. Ella juga memintaku untuk menyanyikan lagu tidur untuknya, karena dia bilang dia ingin melihat warna suaraku yang indah sebelum dia tidur. Dia berkata kalau aku bisa jadi penyanyi terkenal suatu hari nanti. Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya. Aku memang suka menyanyi dan memimpikan untuk menjadi penyanyi tapi aku merasa aku tidak akan bisa mewujudkan impian itu, dan aku tidak pernah berusaha mewujudkannya.
■ ■ ■
“Linda… Linda bangun!” kata suara itu membangunkanku.
Perlahan aku membuka mataku dan melihat Ella yang mengenakan seragam sekolah kami sedang membuka tirai-tirai jendela kamarnya. Aku bangun dari tempat tidur dengan cepat, lalu melihat Ella dengan takjub.
“Kau sudah bisa pergi ke sekolah? Sudah tidak sakit lagi?” tanyaku cepat.
Ella tersenyum, lalu menaruh tangannya di pinggang dan membusungkan dadanya.
“Iya!! Lihat, aku sudah segar bugar!!” katanya ceria.
Aku tersenyum bahagia dan langsung memeluknya. Akhirnya, aku bisa pergi sekolah bersama Ella lagi.
■ ■ ■
Sepulang sekolah, kami berdua secara diam-diam pergi ke dekat danau yang biasa kami datangi. Kami bermain dan bermain musik bersama dengan biola yang sengaja di bawa Ella hari itu. Perasaanku sangat senang, seolah-olah seluruh tubuhku terbungkus oleh kehangatan yang sangat menyenangkan. Tidak hanya sinar mentari di hari terpanas di musim panas yang membuatku hangat tetapi juga dengan kehadiran Ella. Hanya dengan melewatkan waktu bersamamu, aku bahagia Ella.
Hari itu kami terus bermain hingga matahari terbenam. Mungkin kami akan terus bermain seandainya Sharon dan Ashley tidak mencari kami dan menyuruh kami pulang untuk makan malam.
“Nona Ella dan juga Nona Linda, saya harap Nona berdua segera naik ke kamar masing-masing dan mandi dengan air hangat yang saya dan Sharon telah siapkan di kamar Nona masing-masing!” kata Ashley tegas setelah kami sampai di rumah.
“Dan setelah itu, Nona berdua bisa turun ke ruang makan dan menyantap makan malam yang telah dihidangkan bersama dengan tuan dan nyonya!” katanya lagi.
“Tapi… jangan terlalu lama. Nona berdua tidak ingin membuat tuan dan nyonya menunggu nona berdua ‘kan?” lanjutnya lagi.
Aku dan Ella hanya bisa mengiyakan dan pergi ke kamar kami masing-masing.
Setelah selesai mandi, aku pun turun ke ruang makan untuk makan malam. Di sana sudah ada ayah dan ibu Ella.
“Duduklah, Linda! Kita masih akan menunggu Ella.” Kata ibu Linda lembut.
Lama kami menunggu Ella, namun dia tidak turun juga. Aku terus memerhatikan jarum jam di jam besar di ruang makan tersebut. Terus menerus menambah langkahnya seiring dengan bertambahnya waktu. Kami terus menunggu Ella. Semenit… Dua menit… Tiga menit… hingga sepuluh menit berlalu, Ella tak kunjung hadir di ruang makan.
“Mengapa Ella lama sekali?” gumam ayah Ella, “Sharon, tolong panggil dia.” Katanya akhirnya.
“Baik, Tuan!” lalu Sharon pergi memanggil Ella.
Sedikitnya, ada sekitar tiga menit Sharon pergi memanggil Ella. Lalu muncullah Ashley yang berlari-lari ke arah kami dengan panik.
“Tuan… Nyonya…” katanya sambil terengah-engah, “Nona Ella… Nona Ella… Tuan…”
Seketika wajah ayah dan ibu Ella berubah pucat. Mereka secara serentak langsung berdiri dan menyerbu ke arah tangga, menuju kamar Ella. Dengan perasaan heran dan bingung, serta sedikit khawatir aku mengikuti mereka dari belakang.
Setibanya di kamar Ella yang pintunya terbuka, terlihatlah Sharon yang sedang duduk di lantai dengan menopang Ella yang terbaring tak sadarkan diri di tangannya. Ayah dan ibu Ella menyerbu masuk ke kamar itu dan melihat keadaan Ella.
Sharon! Cepat hubungi dokter pribadi Ella, dokter Jason! Cepat!” perintah ibu Ella dengan nada panik.
“Baik nyonya!” kata Sharon.
Saat dokter pribadi Ella datang, semua orang di ruangan itu termasuk aku dipersilakan ke luar untuk sementara. Saat itu, aku benar-benar khawatir atas keadaanmu Ella, benar-benar khawatir. Di luar pintu kamar itu, aku terus berdoa, terus berdoa, hingga akhirnya sang dokter pun ke luar dari kamarmu.
“Tuan Kilcher, dan (mantan) istrinya, saya ingin berbicara dengan anda berdua. Di kamar Nona Ella saja, kalau bisa.” Kata dokter itu.
Mereka bertiga masuk ke kamar Ella. Ella, saat itu, aku sedikit kesal. Lagi-lagi aku hanya bisa menunggu di depan pintu kamarmu. Hanya bisa berdoa di depan pintu itu, hingga pintu itu terbuka untuk kedua kalinya dan memberikan harapan baru untukku.
Dari balik pintu itu, ibu Ella berkata sambil terisak, “Linda, Ella ingin bertemu denganmu.”
Akhirnya Ella bangun! Aku memasuki kamar itu dengan perasaan sedikit lebih tenang. Namun, entah mengapa hatiku masih merasa khawatir. Sangat khawatir.
■ ■ ■
“Ella, kemarilah!” kataku pada gadis cilik berumur sembilan tahun itu, “Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
Gadis itu berlari ke arahku dan menggenggam tanganku, “Ke mana?”
“Sudahlah. Ikut saja, ya?” kataku tersenyum padanya.
“Iya.” Katanya, lalu tersenyum riang padaku
Ella, pada malam di itu, malam di hari terpanas di musim itu, kau berkata padaku, “Linda, jadilah seorang penyanyi! Aku yakin, kau pasti bisa jadi penyanyi terkenal dengan warna suara seindah itu. Aku bersyukur memiliki kemampuan ini, karena dapat melihat warna suaramu.”
Saat itu, ayah dan ibumu hanya menangis. Ternyata, dugaan mereka bahwa kau menderita salah. Kau justru sangat bahagia. Iya ‘kan Ella?
“Linda, aku sangat bersyukur bisa berteman denganmu…” itulah katamu, yang tidak akan pernah kulupakan.
Ella, pada malam itu, aku memutuskan bahwa aku akan menjadi penyanyi terkenal demi memenuhi impianku. Dan juga, demi memenuhi harapanmu.
Ella, apa kau masih ingat malam di mana kita menangis bersama. Saat itu, kau berharap bahwa orang tuamu kembali bersama. Kau tahu, Ella. Harapanmu terkabul.
“Ella, inilah tempatnya. Indah bukan?” kataku pada Ella.
“Tempat apa ini?” tanyanya heran.
Aku hanya mengajaknya ke salah satu sisi dari tempat itu, “Ella, apa kau kedinginan?”
“Tidak.” Katanya, “Mantel ini cukup hangat.”
Ella, aku masih ingat awal perjumpaan kita. Awal perjumpaanku denganmu. Walaupun hari indah itu telah lama berlalu, tapi keadaan pada waktu itu masih terasa segar dalam ingatanku. Tidak hanya pemandangan indah di hari bersalju itu, tapi juga dirimu yang tersenyum manis kepadaku dan berkata, “Warna suaramu, sangat indah.”
Dan hari ini, Ella, juga bersalju. Dan aku sangat merindukanmu, apa kau juga merindukanku.
Ella, kau tahu. Kini aku tahu apa nama kelebihanmu itu. Synesthesia. Merupakan kemampuan perseptual seseorang yang berbeda dari orang pada umumnya. Dalam kasusmu, Ella, kau tak hanya bisa mendengar suara tapi juga melihat warnanya. Dalam sisi kedokteran, bakatmu penyakit penyakit karena terdapat kelainan pada hemisfer kiri. Namun, kebanyakan dari orang dengan kemampuan ini merasa bahwa yang ia alami bukanlah suatu penyakit, tetapi anugerah. Sama sepertimu ‘kan? Ini anugerah.
Sayangnya, akan terdapat gen letal yang dapat menyebabkan kematian pada sebagian orang, utamanya dengan jenis kelamin perempuan. Ella, mungkin dengan mengetahui hal ini tidak akan ada gunanya. Namun Ella, setidaknya aku tahu apa nama kelebihanmu.
Sambil memikirkan itu, aku menatap gadis cilik di sampingku, dan juga menatap nisan di depanku.
“Ini apa, bu?” tanya gadis cilik itu.
“Ini nisan makam sahabat ibu yang meninggal sewaktu seusia kamu, Ella.” Kataku, “Namanya Ella Kilcher. Sahabat ibu yang selalu ibu sayang, hingga kini.”
Ella, apa kau melihat? Ini anakku, namanya Ella. Kini 17 tahun telah berlalu, aku sudah punya anak, dan kini aku juga telah menjadi penyanyi terkenal di seluruh dunia dan tinggal di Amerika.
Ella, setahun setelah kau meninggal, aku di jemput oleh ayahku untuk ke Indonesia. Dan dua tahun setelahnya aku ke Amerika bersama ayahku. Aku mulai menjadi penyanyi di sana, dan telah menjadi terkenal. Ella, harapanmu telah kukabulkan, kau bahagia ‘kan?
“Ibu, kenapa menangis?” kata gadis kecil itu
Aku hanya tersenyum dan memeluknya.
“Siapa?” kata seseorang di belakangku.
Aku berbalik dan berdiri membelakangi nisan Ella. Aku melihat wanita itu. Sudah tidak muda lagi, namun aku masih dapat mengenalinya sebagai gadis remaja yang manis yang sangat cerewet yang selalu menemaniku dan Ella bermain saat masih kecil.
“Hai, Sharon!” kataku, lalu tersenyum.
“Nona Linda…” katanya sambil menahan tangisnya, “Kapan Anda datang?”
“Baru saja. Hari ini, hari pertemuan pertamaku dengan Ella… Sekaligus hari terdingin di musim dingin” kataku.
“Sudah berapa tahun tidak melihat anda… Hanya di televisi… Saya bahagia sekali… Nona Ella di sana juga pasti bahagia melihat Anda…” katanya, lalu menangis.
Aku menghampirinya dan berbincang-bincang dengannya. Ternyata dia dan Ashley-lah yang selalu membersihkan makam Ella. Ayah dan Ibu Ella juga setiap tahun datang ke makam itu. Mereka sekarang hidup rukun.
“Nona Linda, maukah Anda mampir ke rumah?” kata Sharon, “Bahkan kalau bisa, menginaplah di rumah itu…”
“Tentu saja…” kataku.
Aku, Ella anakku, dan Sharon pun berjalan ke rumah itu sambil terus berbincang-bincang. Berjalan ke rumah yang sangat besar itu, di mana semua kenangan bersama Ella bermula… berjalan… dan berakhir di tempat itu.
■■■
The End

Goodbye Boss and Welcome New Boss!

Today my office has just made farewell party for my ex boss. The party was going good, but the fact that I suddenly had to be MC made me a little bit nervous. So I just tried my best eventhough I think it was still bad :D . My boss was exchanged with my little boss who got promotion. And he was moved to another branch of our office. Another story, today is coincide with my other boss (frankly, my indirect boss) birthday too, and he bought us two boxes martabak per section. Ow yeah, new employees have come, and start their temporary work today. Our section got one new employee. A girl from Surabaya. She's still new, so I can't tell you too much about her. Another story, my daddy came last saturday and we plan to meet tomorrow. I just don't know where will i take him. Let see later.

Btw, these are some pictures that were taken today.





After you see my uniform, do you know where do I work? Hahahaaa..
By the way, i've got so much acnes on my face. Ottookeee.. I think i have to go to skin care today, and that means paying a lot of money. HAHAHAHAHAA.. T___T

20140112

Hi.. Long time no see..

This is my first writing since a long time ago. From now on I decided to write my blog in english although my english is so poor. So please don't laugh at me, instead teach me :) .  There are so many things I'd like to write, but I dunno where do I start. So I just make it random. Frankly, i dont really like to write, but i have to, no I mean but I should do it. I had a dream since I was in senior high school. I won't tell you what is that, uh, come on, it's just a common student dream. Ok, yeah study abroad. My target are some developed countries in Europe, US, Japan, or Aussie. You may say that my dream is too high, so long as I have a low confidence, I do say the same. Hello Dian, you're not really smart. How dare you dream that much! But you know, I always believe that I have an invisible hand that usually help me. I've ever had a perfect point on math in my final examination when I was in elementary school. Ok, it's not really awesome, because I had 70 point in another subject. And that made my average point below to 90. And it got worse when I was in junior high school. My average point was just about 70 what. In senior high school I've always been placed in a lowest class. You know that in my school, the students were placed in a class according to their report card. The students who have the best point in report card would have been placed in class 1, and the worst in class 6. I've always been in class 5 or 6. Am I stupid? No, I never think that I'm stupid, I'm just not really smart and lazy. Moreover, reckon in my school was the best school in my city, I think I'm good enough. The time when I entered to the university was the first time I thought that i had an invisible hand. I've never really learnt in senior high school, I usually skipped my course, and sometimes i played truant from the school. Yeah, those were really bad habits, but thank Allah, I could pass in my first choice in university. Other things that invisible hand did in my my life were made me passed the university with cumlaude title, and a year later I could work in one of the greatest ministry in Indonesia. Then, I called that Allah's help with "invisible hand". So, may Allah will always give me his help, so I can go abroad. I will do more effort for this one. I will study hard, like what I'm doing now. I try to improve my skill which is difficult to get better (-___-). May Allah always show me the right way. Aamiin..